Entertainment casino_Baccarat Super Sum_Betting_Macau Baccarat Website

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:IndonesiaGaming

Jelek atau bagus, sempit atau luas, terawat atau tidak – rumah tetaplah rumah. Berpikir untuk pergi dan hidup jauh dari rumah mungkin hanya muncul sekali-kali. Tak pernah terpikir olehmu bahwa kelak kamu akan benar-benar mewujudkan hal itu. Tapi dengan tekad bulat untuk segera meraih cita-cita dan mimpi, langkahmu untuk pergi dan merantau terasa lebih ringan dijalani. Kamu pun percaya bahwa pergi selalu sepaket dengan kemungkinan untuk pulang kembali.

Rumah adalah tempat yang nyaman karena segala yang kamu butuhkan sudah tersedia. Berbeda ketika akhirnya hidup sendiri di perantauan, apa-apa yang kamu butuhkan harus diusahakan sendiri. Selain itu, kamu tak pernah merasa sepi atau benar-benar sendiri saat di rumah. Meski rumahmu kosong karena ditinggal penghuninya beraktivitas di luar rumah, mereka tetap akan pulang ketika menjelang sore hari.

Pendidikan atau pekerjaan yang kamu tekuni mungkin jadi satu-satunya alasan yang membuatmu ikhlas tinggal jauh dari rumah dan keluarga. Tapi tak apa, anggap saja kamu sedang berjuang demi masa depan yang kelak bisa dibanggakan. Mungkin, kamu hanya harus menunggu waktu yang paling tepat untuk kembali pulang dan menikmati waktumu bersama keluarga di rumah.

Punya keluarga yang bisa dirindukan adalah sebuah keberuntungan. Karena mereka tak pernah mengecewakan, mereka yang pasti membalas rindumu dengan sepadan. Buktinya, ayah atau ibu adalah yang paling rajin meneleponmu. Sekadar menanyakan kabar atau meyakinkan bahwa kuliah atau pekerjaan yang kamu jalani berjalan lancar. Mereka juga bisa dengan polosnya bertanya; “kapan pulang? Belum dapat libur, ya?”. Tanpa perlu ditanya, seandainya bisa kamu juga ingin sering-sering pulang ke rumah.

Rumah dan keluarga adalah tempatmu belajar sebelum keluar dan menjejak dunia yang sebenarnya. Selain belajar berjalan atau menggambar, di rumah pula kamu diajarkan tentang agama dan bagaimana selayaknya bersikap pada orang yang lebih tua. Ibaratnya, rumah jadi tempatmu menempa diri sehingga dunia yang sebenarnya bisa kamu hadapi dengan lebih mawas diri.

“Home is a place you grow up wanting to leave, and grow old wanting to get back to.”

Tapi, senyaman apapun sebuah rumah, ia pun tak pernah luput dari cela. Dianggap kurang luas, bangunannya sudah terlalu kuno, sering bocor di sana-sini, hingga satu-satunya yang dibutuhkan adalah renovasi. Selain itu, momen kebersamaan dengan keluarga pun tak melulu bahagia. Ada kalanya, hawa di rumahmu terasa terlalu panas sehingga tak ada pilihan selain keluar mencari udara segar. Ayah dan ibumu mungkin sedang bertengkar atau adikmu sedang jadi makhluk paling menyebalkan. Ah, bukankah hal-hal semacam ini wajar saja dirasakan?

Sakit memang tak menyenangkan. Tapi yang lebih tak kamu harapkan adalah jatuh sakit saat sedang sendirian perantauan. Betapa kamu harus berjuang untuk sekadar bangun dari tempat tidur dan keluar kamar kos demi bisa membeli makanan atau obat. Meski tubuhmu rasanya tak kuat, tak ada pilihan lain karena diam justru membuat keadaanmu semakin parah.

Kebersamaan dengan mereka memang tak pernah terasa biasa. Makan bersama di satu meja makan dengan keluarga jelas jadi momen yang istimewa. Bisa makan sambil berbagi cerita tentang segala hal adalah sebuah kemewahan. Sesekali kamu bisa tertawa lepas, entah saat mendengar cerita lucu atau karena kelakuan konyol adikmu. Makan bukan lagi perkara apa yang di makan, tapi dengan siapa kamu menyantap makanannya.

Saat ini, kamu mungkin sedang berada jauh dari rumahmu. Kuliah di luar kota, bekerja di negara berbeda, atau tinggal di benua lainnya. Jarak yang kini membentang jelas tak bisa dijangkau dalam sekejap mata. Demi bisa pulang ke rumah, kamu harus berkompromi dengan waktu dan isi kocekmu.

Lantai-lantainya pula yang merasakan perjuanganmu saat masih belajar berjalan. Menjajal untuk melangkahkan kaki meski dengan susah payah. Walaupun seringkali terjatuh, kamu yang masih balita tetap bisa tersenyum lucu lalu bangkit dan mencoba langkah yang berikutnya. Segala cerita dan kenangan di masa lalu memang akan terekam baik-baik di setiap sisi dan sudut-sudut rumahmu.

Ketika ingat tentang rumah atau sedang meremang karena rindu pulang, wajah-wajah keluarga lah yang akan berkelebat dalam lamunanmu. Ada ayah dan ibumu yang keriput di wajahnya mungkin sudah bertambah banyak tanpa kamu tahu. Sementara, adikmu yang terakhir kali terlihat masih imut-imut mungkin sekarang sudah bertambah tinggi dan tumbuh besar. Meski tak bisa dekat dengan mereka, setidaknya kamu tetap bahagia. Kamu beruntung karena masih punya keluarga karena setidaknya kamu tahu kemana harus pulang.

Pulang adalah saat yang paling kamu nantikan. Dan salah satu momen yang paling kamu rindukan adalah sambutan keluarga. Ya, mereka yang sengaja duduk-duduk di teras rumah di hari kedatanganmu. Melihatmu membuka pintu gerbang, mereka terlihat girang dan segera menyambutmu dengan pelukan. Begitu masuk ke dalam rumah, beberapa menu dan camilan sudah terhidang di meja makan. Mereka tahu, keduanya bisa jadi obat paling mujarab menghilangkan rasa lelah setelah perjalanan panjang.

“A man travels the world over in search of what he needs, and returns home to find it.”

Rumah. Satu kata yang maknanya sama sekali tak sederhana. Bukan sekadar tempat tinggal atau tempatmu dibesarkan. Tapi di sanalah cerita perjalanan hidupmu dimulai, dan di sana pula kelak cerita itu akan menemui akhirnya.

Sementara, tinggal sendiri berarti benar-benar sendiri. Tak ada ayah atau ibu yang menungguimu pulang, atau mereka yang bisa kamu tunggu-tunggu kedatangannya. Rumah dan perantauan jelas tak bisa dibandingkan. Rasanya, tak ada alasan untuk tak merindukan rumah dan segala sisi kehidupan di sana.

“There’s no place like home”

Tapi bayangkan apa yang terjadi jika kamu sakit di rumah? Ada ibu yang akan bolak-balik ke kamarmu. Memeriksa apakah kompres di kepalamu harus di ganti, menyuapimu bubur yang senagaja dia buat sendiri, dan memastikan bahwa semua obat sudah kamu minum. Sama halnya saat sedang dilanda masalah, rumah lah satu-satunya tempat yang terasa menenangkan. Karena di sana ada keluarga yang bisa diajak berbagi keluh kesah dan siap membantumu menemukan solusinya.

Jika rumahmu bisa bicara, mungkin dia akan detail bercerita. Betapa tembok-temboknya tak pernah keberatan jadi papan tulis dadakan. Tempatmu belajar menggambar atau membuat garis warna-warni sekenanya dengan crayon saat masih balita. Meski sekarang tak ada lagi bekasnya lantaran sudah dicat ulang berkali-kali, toh kenangan ini pasti masih baik-baik kamu simpan dalam ingatan.

Ya, rumah itu saksi bisu pertumbuhanmu sebagai seorang individu. Betapa dulu saat masih kanak-kanak kamu jadi anak kesayangan karena selalu rajin belajar. Bagaimana kamu yang menginjak usia remaja dianggap predikat nakal karena hampir setiap hari selalu bertengkar dengan kedua orang tuamu. Rumah lah yang merekam cerita tentang segala perubahan dalam hidupmu.

Tapi bukankah menunggu sambil merindu adalah momen yang paling menyenangkan? Karena ketika kelak rindu itu dituntaskan, bahagia yang kamu rasakan tak lagi bisa diungkapkan. Sudahkah kamu rindu dengan rumahmu, sekarang?

Apa kabarmu yang saat ini tinggal jauh dari rumah? Sudahkah rindumu membuncah mengingat tempat tinggal yang lama tak dijamah?

Bagi kamu yang tinggal di perantauan, pulang adalah saat yang paling ditunggu-tunggu. Rasanya, tak ada alasan yang membuatmu enggan atau malas pulang ke rumah. Bahkan segala usaha sengaja kamu lakukan demi bisa sejenak menengok rumah untuk menuntaskan rindumu.

Sebelum merasakan tinggal jauh dari rumah, mungkin kamu melihatnya sekadar bangunan biasa. Ya, rumah adalah sebuah bangunan yang fungsinya sebagai tempat tinggal. Yang melindungimu dari derasnya hujan atau terik matahari seharian. Rumah yang membuatmu merasa aman dan bisa tidur dengan nyaman. Rumah pula tempatmu bertemu orang tua, kakak, atau adik – mengakrabi hari-hari dengan mereka sebagai satu keluarga.