Canadian Online Baccarat_Sabah Sports Website_Football betting rebate

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:IndonesiaGaming

GGaming platform rankingaming platform rankingmGaming platform rankingenjGaming platform rankingadi sosok penting di usia muda memang banyak risikonya. Spiegel pun banyak diterpa omongan orang yang mengatakan ia sebagai pribadi yang arogan, gila, dan lainnya. Namun bagaimana pun orang mengkritiknya, Spiegel mengatakan baGaming platform rankinghwa ia hanyalah seorang manusia yang tak lepas dari kesalahan.

Kepercayaan diri sangat berperan penting dalam menentukan kita akan jadi orang sukses atau tidak. Karena itu, percayalah kepada dirimu sendiri. Percayalah bahwa kamu akan jadi orang yang kamu inginkan saat ini. Ketahuilah bahwa kamu mampu mencapai semua target yang dibebankan kepadamu, serta semua target yang kamu susun sendiri. Kamu bisa menuntaskan semua tantangan yang berada di jalanmu nantinya, dan kalaupun tidak, setidaknya kamu berusaha.

Menjadi miliader di usia muda dengan usaha sendiri membuat Evan Spiegel mengalami banyak hal. Sadar bahwa dirinya bukan sosok yang sempurna, Evan Spiegel yang keras kepala terus belajar untuk memperbaiki diri. Tentu sebagai pemimpin, ia mengerti bahwa banyak tanggungjawab yang ia pikul di dalam bisnis yang sedang ia kembangkan.

Keputusan Spiegel tidak menerima tawaran besar ini menuai banyak keheranan dari orang-orang. “Apa yang salah dengan dirimu? Kenapa kamu tak menjualnya saja?”

Pada bulan Mei lalu, Spiegel mengisi pidato kelulusan di University of Southern California (USC) Marshall. Sebagai anak muda yang sukses dengan usaha, inilah pesan-pesannya untuk generasi muda:

Evan Spiegel yang berkuliah di Stanford ini tidak pernah benar-benar menamatkan pendidikan resminya. Dia hadir dan mengikuti seremoni wisuda hanya karena tidak mau terlihat berbeda dengan teman-temannya. Kenyataannya, wisuda tersebut hanyalah momen “pura-pura lulus” karena sebenarnya, ia masih tertinggal beberapa kredit kelas lagi untuk persyaratan kelulusan. Spiegel berjalan menuju podium kelulusan hanya untuk menerima map ijazah kosong sebagai formalitas. Ia kemudian memutuskan untuk meninggalkan pendidikan formalnya di Stanford, setelah mendapatkan investor untuk bisnis yang tengah ia tekuni, Snapchat.

Oleh karena itu, tetaplah berusaha. Proses tidak akan mengingkari hasil, percayalah.

Bukan berarti Spiegel menyarankan semua anak muda untuk drop out kuliah dan mengikuti jejaknya. Ia menceritakan kisah ini untuk membuat kita berani untuk mengambil keputusan besar dalam hidup demi sesuatu yang dicintai. Buat Spiegel, “terlihat berbeda” adalah kisahnya, mendirikan start-up company dan tidak menyelesaikan pendidikan tingginya. Buatmu mungkin definisinya bisa berbeda. Who knows?

“Saya baru-baru ini menyadari, betapa absurdnya “sandiwara” kelulusan saya itu. Kita semua melakukan hal-hal yang bodoh hanya untuk terhindar dari terlihat berbeda”

Usia muda adalah masa-masa untuk belajar dan berusaha. Lewat pelajaran hidup dari seorang CEO yang masih muda, apakah kamu semakin terpacu mengejar mimpi?

Temukan sesuatu yang kamu cintai via time.com

Sebagai fresh graduates, kamu akan meninggalkan bangku kuliah dan berbondong-bondong memasuki dunia kerja. Tantangan baru akan muncul dalam pekerjaan penuh-waktu yang akan kamu jalani. Bekerja di dunia nyata tentu berbeda dengan belajar akademis. Kamu akan dituntut untuk mampu membuat solusi untuk masalah-masalah yang terus berdaatangan.

Kesuksesan Evan Spiegel tidak lepas dari kontroversi. Ia banyak menuai kritik karena emailnya yang bernada seksis bocor ke publik. Spiegel tidak mengelak dari kesalahannya. Bahkan, ia mengakui bahwa perilakunya yang tertuang lewat email tersebut tidaklah pantas. Ia meminta maaf kepada publik dan menyatakan bahwa saat ini ia banyak belajar dari kesalahannya. Ia juga menyatakan bahwa kesalahannya di masa lalu tidak merefleksikan pandangannya saat ini, karena ia telah berubah.

Apakah kamu adalah pengguna aplikasi Snapchat? Karena tren, kamu mungkin sudah sejak lama menginstallnya di smartphone dan jadi pengguna setia aplikasi 0brolan berbasis gambar ini. Nah sekarang, apakah kamu mengenal CEO Snapchat, Evan Spiegel?

Jadi, nggak hanya janji-janji palsu yang diberikan oleh Spiegel dan kawan-kawan di Snapchat untuk membuktikan bahwa mereka bisa. Kesuksesan itu tentu ada buktinya.

Usianya baru 25 tahun. Tapi saat ini Spiegel sudah mengantongi harga kekayaan USD 2.1 miliar Amerika atau setara Rp 30.7 triliun. Inovasi teknologi lewat Snapchat menjadikannya sebagai miliader termuda di dunia.

Sebagai anak muda, Spiegel sudah sangat sering mendengar orang lain menyebut banyak hal miring tentangnya. Mereka menyebutnya The Millennial Generation, generasi yang berorientasi kepada diri sendiri.

Sebagai CEO Snapchat, Spiegel pernah melakukan hal gila. Ia menolak tawaran USD 3 milar dari Facebook untuk menjual Snapchat di awal rintisannya. Saat itu, Snapchat barulah bisnis awal yang belum menghasilkan apa-apa. Tawaran dari Facebook tersebut tentu menjadi sebuah angin segar yang akan dengan cepat diiyakan oleh orang biasa. Namun Spiegel justru menolak tawaran emas Zuckerberg.

Snapchat diluncurkan pada tahun 2011 oleh Evan Spiegel, Bobby Murphy dan Reggie Brown sebagai co-founder. Awalnya, banyak yang skeptis menyangsikan apakah Snapchat akan mampu menjadi perusahaan yang menghasilkan profit. Pertanyaan-pertanyaan ini oleh Spiegel dan kawan-kawan dijawab dengan bukti nyata. Pada tahun 2015 mereka menghasilkan revenue lebih dari USD 50 juta. Selain itu, Snapchat saat ini sudah memiliki 100 juta pengguna harian yang mengakses lebih dari 7 miliar video setiap harinya.

Akui setiap kesalahan dan belajarlah dari itu via www.wsj.com

Perjalanan melahirkan Snapchat tidak selalu mulus. Mereka sempat dilanda konflik hebat atas kasus law suit yang diajukan oleh salah satu co-founder, Reggie Brown, tentang kredit kepemilikan Snapchat. Spiegel bertengkar hebat dengan Brown dan perselisihan ini diselesaikan dengan jalur hukum. Pada akhirnya, mereka yang awalnya satu tim harus berpisah atas perbedaan pendapat.

“Yang membuat kita manusia adalah ketika kita mendengarkan kata hati dan membiarkan diri kita terdorong ke arah yang lain.”

Ketika kita membuat sebuah keputusan, akan banyak orang yang berpendapat berbeda. Bisa jadi mereka marah atau malah meremehkan. Itu karena jalan yang kita ambil tidak sesuai dengan keinginan-keinginan mereka.

Memang tidak ada jaminan bahwa keputusan Spiegel adalah keputusan yang tepat secara finansial. Namun kecintaannya terhadap sesuatu yang ia dirikan dari awal memberikannya keyakinan untuk tetap bertahan.

Kita selalu ingin diterima oleh orang lain. Penerimaan dari lingkungan kita menjadikan kita sebagai bagian dari grup. Akan tetapi kita juga tidak boleh lupa, bahwa terkadang tidak apa-apa menjadi berbeda. Menjadi berbeda dalam karakter dan pendapat itu lumrah adanya. Alih-alih menutupinya, menurut Spiegel, kita harus menyuarakannya.

Kamu sudah memiliki banyak hal luar biasa di dalam dirimu. Kamu tinggal mengeluarkan potensi itu untuk mengikuti mimpi yang kamu miliki. Dan jika kamu stagnan dalam perjalanannya, toh masih banyak informasi yang tersedia di internet untuk membantumu menemukan jalan lagi. Intinya, tidak pernah ada jalan buntu. Kamu harus kreatif berusaha!

“Saya mohon, pada saat itu terjadi, ingatlah bahwa memang tidak mungkin mengetahui hasil akhir dari usaha kita. Yang bisa menentukan hanya Tuhan semata.”

Selengkapnya, pidato Evan Spiegel dalam wisuda USC bisa kamu lihat di sini:

“Hal terbaik adalah, terlepas dari kamu akan menjualnya atau tidak, kamu akan belajar sesuatu yang sangat berharga tentang dirimu. Jika kamu rela menjualnya, kamu akan segera tahu bahwa itu bukan mimpimu yang sesungguhnya. Dan jika kamu tidak menjualnya, kamu mungkin sedang menuju ke sesuatu. Mungkin kamu sudah memulai sesuatu yang bermakna.”

Ada masanya kamu akan bertemu dengan keputusasaan. Dalam masa-masa itu, kamu bisa saja mempercayai orang-orang yang meremehkanmu, orang-orang yang mengatakan bahwa kamu tidak akan mampu membuat perubahan. Ada waktu-waktu di mana kamu akan sulit melihat dampak dari apa yang kamu kerjakan. Untuk ini, Spiegel meminta kita untuk terus bersabar dan tidak menyerah.

“Itu benar adanya,” kata Spiegel. “Kita memang memiliki rasa berhak, rasa memiliki (terhadap keinginan-keinginan kita), karena kita terlahir di dunia ini untuk bertanggungjawab atas keberadaan kita.”