Indonesia online casino_Bookmaker website_Live Casino_Indonesian Chess

  • 时间:
  • 浏览:0
  • 来源:IndonesiaGaming

Wade Internationallantas, sepertWade Internationali apa perbedaan pandanWade Internationalgan antara orang tWade Internationalua dan anak muda terkait model rumah?

Sebagai anak, laku paling bijak menghadapi hal tersebut adalah dengan menjawabnya. Tentu saja jawaban yang diberikan harus masuk akal agar orang tua mengerti. Urungkan niat menjawab pertanyaan, “Kenapa sih, model rumah sekarang begini?” dengan “Ya, kan lagi ngetren”. Orang tua butuh diberi pengertian. Pandangan generasi mereka terhadap hunian jelas berbeda dengan generasi hari ini.

Lebih diperhatikan/ Credit: vanitjan on Freepik

Untuk memahami pernyataan di atas, harus diketahui kalau megah versi orang tua kita cenderung mengarah kepada rumah model klasik kolonial. Itu lo, rumah dengan pilar megah layaknya istana yang sering muncul dalam sinetron. Sementara bagi generasi muda kekinian, rumah idaman nggak melulu berfokus pada tampilannya, melainkan fungsi. Ini menyusul gaya hidup minimalis yang kian populer.

Aktivitas yang lebih banyak dilakukan di luar rumah ini juga jadi alasan mengapa tata ruang rumah anak muda sering bikin orang tua bertanya-tanya “Masa rumah kok nggak ada ruang tamunya? Terus kalau ada yang datang, mereka duduk di mana?” Ruang tamu nyaris enggak ada karena mereka memang jarang menerima tamu. Selain itu, dapur juga dibuat menyatu dengan ruang makan. Kamar pun dijadikan tempat tidur sekaligus ruang menikmati hiburan bareng keluarga.

Rumah kecil/ Credit: Raw Pixel on Freepik

Perbedaan gaya hidup juga memengaruhi pandangan orang tua dan anak terkait model rumah. Saat ini, anak muda yang berada di usia produktif merupakan generasi sibuk. Mobilitas mereka cukup tinggi. Mengesampingkan fakta pandemi Covid-19, rumah bagi mereka bisa dibilang hanya sekadar tempat istirahat.

Akan tetapi, nggak semua generasi muda memilih hunian mungil karena alasan finansial. Perubahan sosial, seperti banyak dari generasi muda yang saat ini punya prinsip dua anak cukup atau bahkan memilih menjalani hidup childfree, juga jadi alasan mengapa mereka nggak harus punya rumah yang luas meski mampu.

Keputusan untuk memilih desain ala industrialis, misalnya, juga merupakan bagian dari kesadaran atas hunian. Bagi orang tua, dinding rumah yang dibiarkan tanpa polesan cat dan lantai tanpa tegel keramik mungkin tampak aneh, seperti rumah belum siap huni. Namun, jika dikaitkan dengan arsitektur ekologis, desain rumah ala industrialis ini dapat mendukung kesehatan penghuni karena menghindari penggunaan bahan bangunan yang mengandung zat kimia berbahaya.

Ini adalah fakta tak terbantahkan dari hunian kekinian. Rumah kecil berukuran kurang dari 100 meter persegi dengan tiga kamar memang mendominasi pasar properti untuk generasi muda. Popularitas rumah mungil ini disebabkan oleh harga tanah dan bangunan yang terus melonjak, sementara kebanyakan dari anak muda  merupakan generasi sandwich. Rumah mungil adalah pilihan mutlak selain ngontrak.

Ada banyak hal dalam hidup anak muda kiwari yang mungkin nggak dimengerti para orang tua. Nggak usah yang rumit seperti childfree deh, perkara desain dan model rumah saja sering mengganggu pikiran mereka. Berbagai pertanyaan menumpuk saat mengetahui model rumah kekinian tak sesuai selera zaman mereka. Horor bagi para orang tua jika model rumah seperti itu yang akan dihuni sang anak kelak.

Penerapan konsep minimalis ini sebenarnya sudah bisa kita temukan sejak zaman dulu pada hunian Jawa, lo. Seperti bisa diamati, konsep hunian Jawa kerap bersifat luwes dan kosong karena mengutamakan aktivitas manusia pada sebuah ruang. Sebagai contoh, amben memiliki fungsi sebagai tempat menerima tamu, bekerja, belajar, hingga tidur.

Hal ini secara langsung memengaruhi cara generasi muda memandang perabotan. Berbeda pandangan dengan orang tua, sofa kayu jati dan meja televisi berukiran rumit sekarang bukan lagi pilihan. Estetika yang ingin dicapai generasi muda lewat huniannya harus sejalan dengan unsur-unsur lain, seperti luas ruangan, pengaruh terhadap sirkulasi udara, pencahayaan, dan terpenting fungsi.

Kesadaran generasi muda terhadap berbagai unsur bangunan rumah ini pada akhirnya akan mengantar pada diskusi terkait kesehatan, kenyamanan, keindahan, hingga penggunaan energi yang hemat dalam sebuah hunian.

Kebanyakan orang tua menilai model rumah kekinian “hanya begitu-begitu saja” karena objek yang ditonjolkan begitu minim. Nggak ada pilar-pilar megah dan tangga melingkar. Padahal sebenarnya, hunian kekinian itu kaya fungsi. Poin ini sekaligus dapat menjawab mengapa model rumah kekinian kadang nggak punya ruang tamu khusus, karena satu ruang bisa ditujukan untuk berbagai aktivitas.

Harap beli akses artikel ini atau berlangganan   untuk melanjutkan

Kok begini sih?/ Illustration by Hipwee

Rumah yang luas kini bukan lagi menjadi standar hidup layak. Kalau orang tua kita dulu mendambakan rumah yang luas karena punya banyak anak, generasi muda sekarang tidak punya alasan yang sama untuk itu.

Harus diakui kalau generasi muda masa kini memiliki kesadaran yang lebih tinggi dalam segala hal dibandingkan para orang tua. Meski rumah bagi mereka tak lebih dari tempat istirahat, Ign. Dono Sayoso menyebut anak muda sekarang cenderung memerhatikan berbagai unsur bangunan seperti sirkulasi udara, pencahayaan, keamanan, dan estetika. Menggunakan jasa arsitek dan desainer interior pun menjadi hal yang lumrah bagi mereka.

Pengajar Lembaga Manusia dan Bangunan Universitas Katholik Soegijapranata Ign. Dono Sayoso, dalam publikasi yang diterbitkan di laman neliti mengatakan, rumah bergantung pada latar belakang sosial, ekonomi, pendidikan dan lain-lain. Penentuan desain atau model sebuah hunian akan dipengaruhi oleh latar belakang tersebut.

Nah, itu dia penjelasan serius tapi santai terkait perbedaan pandangan orang tua dan anak muda terkait model hunian. Semoga sedikit tercerahkan, ya.

Dapat disimpulkan kalau perbedaan pandangan antara orang tua dan anak muda terkait model rumah tak dapat dielakkan. Manusia selalu berupaya memenuhi kebutuhan yang akan terus berubah. Suasana rumah orang tua dan rumah anak muda pasti akan berbeda karena aktivitas sosial dan fisik yang dilakukan di rumah tersebut juga tak sama. Begitu pula dengan organisasi ruang, perabot, dan lain-lain, pasti akan berbeda sesuai dengan latar belakang sosiologis penghuninya.